KEMAJUAN ZAMAN MEMBUAT BUDAYA PANIA
( MENEGUR ) DAN HORMAT KEPADA ORANG TUA MENGHILANG DILINGKUNGAN MASYARAKAT HITU
( MENEGUR ) DAN HORMAT KEPADA ORANG TUA MENGHILANG DILINGKUNGAN MASYARAKAT HITU
OLEH: S.Pelu
·
Pandangan Budaya Menurut
beberapa Ahli
Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, disebutkan
bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “
kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia,
seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Menurut Artikelnya Nadhia Lesmana Kebudayaan merupakan
peran penting dalam nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu yang mencirikan manusia
adalah Istiadat. Sedangkan menurut Ustadz Abu Ihsan al-Atsari Budaya menurut islam Ialah mengajarkan kepada
umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran
yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang
bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dengan demikian, Islam telah berperan
sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Dan dalam satu waktu Islamlah
yang meletakkan kaidah, norma dan pedoman. Sampai disini, mungkin bisa
dikatakan bahwa kebudayaan itu sendiri, berasal dari agama. Menurut Masyarakat
Hitu Kebudayaan merupakan pandangan yang didalamnya terdapat pengetahuan,
agama, kepercayaan, adat istiadat, kesenian, hukum, dan kemampuan-kemampuan
yang di dapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan itu sendiri akan
terus berkembang sejalan dengan perubahan zaman, juga proses pemikiran
manusia.
·
Budaya Pania ( Menegur ) masyarakat Hitu
Negeri Hitu
adalah negeri yang dikenal sebagai budaya menjunjung tinggi nilai historis, dan dikenal sebagai negeri yang sopan santun. Seiring dengan perkembangan
jaman saat ini masyarakat sudah mulai meninggalkan budaya-budaya atau tradisi
yang ada dalam negeri tersebut, salah satunya adalah budaya Pania atau menegur. Pania atau menegur merupakan budaya sapaan. Tradisi ini juga sebagai bentuk rasa menghormati orang
yang lebih tua, dan tradisi tersebut memang sudah mengakar dalam keseharian masyarakat Hitu. Tradisi ini pun merupakan sebuah
bentuk penghormatan dan gambaran budi pekerti leluhur yang diwariskan secara
turun temurun dari generasi ke generasi. Contoh lainnya juga adalah budaya sopan santun, yang sudah
mulai luntur di kalangan masyarakat Hitu. Dalam budaya Pania atau menegur, ada sapaan khusus yang
harus di ketahui oleh kita kalangan muda. Sapaan khusus itu ialah panggilan dengan
kelompok-kelompok orang tertentu, seperti
Sapaan kepada Uwa, Wate, Ipar,
Meme (om), Bibi (Tante), Mama, dan
Bapak. Budaya seperti ini juga dilakukan agar kita masyarakat Hitu
bisa mengetahui rang (Batasan)
dari jati diri kita pada mata rumah tersebut (luma tau).
Sapaan Uwa biasanya dilakukan kepada sodara perempuan dari bapak kita, baik itu sodara kandung
maupun sodara sepupuan. Sedangkan pangilan kepada Wate biasanya dilakukan
kepada suami dari sodara perempuan, baik itu sodara kandung, maupun sodara
sepupuan. Sementara sapaan untuk Meme ( Om ) dilakukan ketika
anaknya menegur sodara Laki-laki, dari sodara perempuan tersebut, baik kandung
maupun sepupuan, sedangkan bibi
(tante) sama seperti Om juga tapi bedanya panggilan dari anak laki-laki ke sodara perempuannya. sedangkan panggilan bapak dan ibu yang sering dilakukan masyarakat Hitu
sama pada panggilan bapak Pada umumnya, budaya memanggil seperti yang
dijelsakan di atas tidak terlepas dari mata rumah ( Luma tau ) yang ada pada negeri hitu. Luma Tau atau mata rumah merupakan tempat berkumpulnya semua kelompok keluarga pada tiap-tiap mata rumah, dan lumah tau sangatlah penting untuk mengatur budaya-budaya yang ada di negeri. seiring dengan perkembangan
jaman, budaya yang selalu dilakukan oleh masyararakat Hitu mulai menghilang, bukan cuman budaya Pania atau menegur saja, tetapi budaya luma tau pun begitu. Dan secara tidak langsung juga nilai-nilai historis yang ada pada mata rumah juga mulai menghilang. entah tidak
dikenalkan dan tidak di jelaskan oleh orang tua mereka atau dari kemalasan anak-anak muda sekarang ini
untuk mengertahuinya. Kenapa demikian?. Budaya Pania atau menegur ini dilakukan sesuai kelompok-kelompok pada mata rumah, dan ini dilakukan dimana pun,
kapan pun, dan dalam kondisi apapun. Sekali pun kita pejabat atau orang yang
punya wewenang lebih dari orang lain, ya tetap saja budaya ini harus
diterapkan ketika berada pada mata rumah itu. Serta budaya ini merupakan sebagai bentuk penghormatan . Zaman
sekarang ini bentuk penghormatan semacam itu memang sudah tidak begitu lekat
seperti zaman dahulu, utamanya adalah di kalangan remaja. Remaja mulai tidak
menghormati orang lain dalam berkata dan bertindak. Beberapa kebiasaan mulai
ditinggalkan dari mengucapkan salam, mencium tangan kedua orangtua sebelum
meninggalkan rumah, juga membungkukkan badan ketika melewati orang yang lebih
tua. Bahkan sesederhana mengucapkan “maaf" ketika berbuat salah, “terima
kasih” ketika dibantu orang lain, “permisi”,dan “tolong” saja sudah mulai
ditinggalkan. Banyak pendapat yang mengatakan anak muda zaman sekarang kurang
melukan hal-hal semacam begitu, diantaranya menghargai sesama, rasa hormat
kepada orang yang lebih tua dan simpati yang sangat menipis. Secara tidak langsung
dengan kurangnya sikap seperti begitu membuat etika dalam bertatakrama, dan
jati diri kita sebagai Negeri yang berbudaya sudah mulai luntur. Tapi masalah hal ini dianggap sepeleh, dan Perkara ini seharusnya kita perhatikan sejak kita masih
kecil, dan seharusnya diajarkan oleh para orang tua kita. Memang, masih banyak
orang yang masih menjunjung kesopanan dan tatakrama, tetapi lebih banyak lagi
orang-orang yang telah melupakan tentang tatakrama dan sopan santun tersebut. Pada
dasarnya kita harus melakukan hal semacam itu, Apalagi kita hidup dalam budaya
Timur yang tinggi akan nilai-nilai kesopanan, sehingga seharusnya kita
berpatokan dalam budaya timur dan berpedoman pada budaya tersebut. Memang kadar
Menghormati yang berlaku dalam setiap masyarakat berbeda–beda, tergantung dari
kondisi sosial setempat. Dan permasalahan ini sangat komplek karena berkaitan
dengan faktor internal dan eksternal yang menyebabnya lunturnya nilai sopan
santun. Faktor eksternal terealisasi dalam kondisi sekarang yang secara realita
kebudayaan terus berubah karena masuknya budaya barat yang akan sulit
mempertahankan kesopanan disemua keadaan ataupun disemua tempat. Perubahan
tersebut mengalami dekadensi karena berbedanya kebudayaan barat dengan
kebudayaan kita. Misalnya saja sopan santun dalam tutur kata. Di barat,
anak-anak yang sudah dewasa biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan
nama, tetapi di negeri kita sendiri panggilan tersebut sangat tidak sopan, karena
orang tersebut umurnya lebih tua dari kita. Sedangkan faktor internalnya ada pada diri sendiri,
keluarga, lingkungan tempat nongkrong, lingkungan sekolah, ataupun media massa.
Pengetahuan tentang sopan santun yang didapat disekolah mungkin sudah cukup
tapi dilingkungan keluarga ataupun tempat tongkrongan dan media massa kurang
mendukung tindakan sopan disemua tempat ataupun sebaliknya, sehingga membuat
tindakan sopan yang dilakukan oleh anak-anak atau pun remaja hanya dalam
kondisi tertentu. Melihat kondisi demikian, agaknya tepat Kita lebih berperan dalam pembentukan etika pada anak-anak sekarang ini . Dan orang tua pula dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut.
Namun mengajarkan etika tidak bisa dilakukan hanya satu hari. Hal ini
membutuhkan proses yang cukup panjang dan harus dilakukan secara konsisten dan
berkesinambungan. Hal tersebut adalah suatu langkah awal untik membentuk suatu
generasi yang sadar diri terhadap tatakrama dan sopan santun. Agar kelak
kedepanya Nilai-nilai tradisional terutama budaya
semacam itu harus tetap,lestariakn, dijaga
sehingga tidak hilang seiring dengan berkembangnya
zaman. Nilai-nilai Budaya inilah sangatlah penting
dalam hidup bermasyarakat dan bersosialisasi dengan orang banyak. Sehingga orang
lain juga dapat menghormati kita sebagaimana kita telah menjaga dan
menghormati dikalangan orang banyak.
Dan penyebab
yang terjadi sehingga kultur budaya yang sudah di jaga oleh para leluhur kita
menghilang di kalangan orang banyak ialah mulai ditinggalnya perubahan sosial
budaya karena terjadi sebuah kebudayaan melakukan kontak dengan kebudayaan asing. Perubahan
sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya
dalam suatu masyarakat. Yang jadi pertanyaan besar untuk kita sebagai generasi
penerus kebudayaan ini adalah mampukah,
kita merubah pandangan masyarakat sekarang ini,terkait dengan perubahan sosial
budaya yang suda di lestarikan oleh leluhur kita kembali?
Dan mampukah kita sebagai generasi penerus melestarikan kembali fungsi dan legitimasi terkait dengan Mata-mata rumah yeng sekarang ini nilai historinya sudah menghilang?
Dan mampukah kita sebagai generasi penerus melestarikan kembali fungsi dan legitimasi terkait dengan Mata-mata rumah yeng sekarang ini nilai historinya sudah menghilang?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar