Kamis, 11 Juli 2019


KEMAJUAN ZAMAN MEMBUAT BUDAYA PANIA
 ( MENEGUR ) DAN HORMAT KEPADA ORANG TUA MENGHILANG DILINGKUNGAN MASYARAKAT HITU
OLEH: S.Pelu



·        Pandangan Budaya Menurut beberapa Ahli

Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Menurut Artikelnya Nadhia Lesmana Kebudayaan merupakan peran penting dalam nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu yang mencirikan manusia adalah Istiadat. Sedangkan menurut Ustadz Abu Ihsan al-Atsari Budaya menurut islam Ialah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dengan demikian, Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Dan dalam satu waktu Islamlah yang meletakkan kaidah, norma dan pedoman. Sampai disini, mungkin bisa dikatakan bahwa kebudayaan itu sendiri, berasal dari agama. Menurut Masyarakat Hitu Kebudayaan merupakan pandangan yang didalamnya terdapat pengetahuan, agama, kepercayaan, adat istiadat, kesenian, hukum, dan kemampuan-kemampuan yang di dapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan itu sendiri akan terus berkembang sejalan dengan perubahan zaman, juga proses pemikiran manusia. 

·        Budaya Pania ( Menegur )  masyarakat Hitu
Negeri Hitu adalah negeri yang dikenal sebagai budaya menjunjung tinggi nilai historis, dan dikenal sebagai negeri yang sopan santun. Seiring dengan perkembangan jaman saat ini masyarakat sudah mulai meninggalkan budaya-budaya  atau tradisi yang ada dalam negeri tersebut, salah satunya adalah budaya Pania atau menegur. Pania atau menegur merupakan budaya sapaan. Tradisi ini juga sebagai bentuk rasa menghormati orang yang lebih tua, dan tradisi tersebut memang sudah mengakar dalam keseharian masyarakat Hitu. Tradisi  ini pun merupakan sebuah bentuk penghormatan dan gambaran budi pekerti leluhur yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Contoh  lainnya juga adalah budaya sopan santun, yang sudah mulai luntur di kalangan masyarakat Hitu. Dalam budaya Pania atau menegur, ada sapaan khusus yang harus di ketahui oleh kita kalangan muda. Sapaan khusus itu ialah panggilan dengan kelompok-kelompok orang tertentu, seperti  Sapaan kepada Uwa, Wate, Ipar, Meme (om), Bibi (Tante), Mama, dan Bapak. Budaya seperti ini juga dilakukan agar kita masyarakat Hitu bisa mengetahui rang (Batasan) dari jati diri kita pada mata rumah tersebut (luma tau). 
Sapaan Uwa biasanya dilakukan kepada sodara perempuan dari bapak kita, baik itu sodara kandung maupun sodara sepupuan. Sedangkan pangilan kepada Wate biasanya dilakukan kepada suami dari sodara perempuan, baik itu sodara kandung, maupun sodara sepupuan. Sementara sapaan untuk  Meme ( Om )  dilakukan ketika anaknya menegur sodara Laki-laki, dari sodara perempuan tersebut, baik kandung maupun sepupuan, sedangkan bibi (tante) sama seperti Om juga tapi bedanya panggilan dari anak laki-laki ke sodara perempuannya. sedangkan panggilan bapak dan ibu yang sering dilakukan masyarakat Hitu sama pada panggilan bapak Pada umumnya, budaya memanggil seperti yang dijelsakan di atas tidak terlepas dari mata rumah ( Luma tau ) yang ada pada negeri hitu. Luma Tau atau mata rumah merupakan tempat berkumpulnya semua kelompok keluarga pada tiap-tiap mata rumah, dan lumah tau sangatlah penting untuk mengatur budaya-budaya yang ada di negeri. seiring dengan perkembangan jaman, budaya yang selalu dilakukan oleh masyararakat Hitu mulai menghilang, bukan cuman budaya Pania atau menegur saja, tetapi budaya luma tau pun begitu. Dan secara tidak langsung juga nilai-nilai historis yang ada pada mata rumah juga mulai menghilang. entah tidak dikenalkan dan tidak di jelaskan oleh orang tua mereka atau dari kemalasan anak-anak muda sekarang ini untuk mengertahuinya. Kenapa demikian?. Budaya Pania atau menegur ini dilakukan sesuai kelompok-kelompok pada mata rumah, dan ini dilakukan dimana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apapun. Sekali pun kita pejabat atau orang yang punya wewenang lebih dari orang lain, ya tetap saja budaya ini harus diterapkan ketika berada pada mata rumah itu. Serta budaya ini merupakan sebagai bentuk penghormatan . Zaman sekarang ini bentuk penghormatan semacam itu memang sudah tidak begitu lekat seperti zaman dahulu, utamanya adalah di kalangan remaja. Remaja mulai tidak menghormati orang lain dalam berkata dan bertindak. Beberapa kebiasaan mulai ditinggalkan dari mengucapkan salam, mencium tangan kedua orangtua sebelum meninggalkan rumah, juga membungkukkan badan ketika melewati orang yang lebih tua. Bahkan sesederhana mengucapkan “maaf" ketika berbuat salah, “terima kasih” ketika dibantu orang lain, “permisi”,dan “tolong” saja sudah mulai ditinggalkan. Banyak pendapat yang mengatakan anak muda zaman sekarang kurang melukan hal-hal semacam begitu, diantaranya menghargai sesama, rasa hormat kepada orang yang lebih tua dan simpati yang sangat menipis. Secara tidak langsung dengan kurangnya sikap seperti begitu membuat etika dalam bertatakrama, dan jati diri kita sebagai Negeri yang berbudaya sudah mulai luntur. Tapi masalah hal ini dianggap sepeleh, dan Perkara ini seharusnya kita perhatikan sejak kita masih kecil, dan seharusnya diajarkan oleh para orang tua kita. Memang, masih banyak orang yang masih menjunjung kesopanan dan tatakrama, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang telah melupakan tentang tatakrama dan sopan santun tersebut. Pada dasarnya kita harus melakukan hal semacam itu, Apalagi kita hidup dalam budaya Timur yang tinggi akan nilai-nilai kesopanan, sehingga seharusnya kita berpatokan dalam budaya timur dan berpedoman pada budaya tersebut. Memang kadar Menghormati yang berlaku dalam setiap masyarakat berbeda–beda, tergantung dari kondisi sosial setempat. Dan permasalahan ini sangat komplek karena berkaitan dengan faktor internal dan eksternal yang menyebabnya lunturnya nilai sopan santun. Faktor eksternal terealisasi dalam kondisi sekarang yang secara realita kebudayaan terus berubah karena masuknya budaya barat yang akan sulit mempertahankan kesopanan disemua keadaan ataupun disemua tempat. Perubahan tersebut mengalami dekadensi karena berbedanya kebudayaan barat dengan kebudayaan kita. Misalnya saja sopan santun dalam tutur kata. Di barat, anak-anak yang sudah dewasa biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan nama, tetapi di negeri kita sendiri panggilan tersebut sangat tidak sopan, karena orang tersebut umurnya lebih tua dari kita. Sedangkan faktor internalnya ada pada diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat nongkrong, lingkungan sekolah, ataupun media massa. Pengetahuan tentang sopan santun yang didapat disekolah mungkin sudah cukup tapi dilingkungan keluarga ataupun tempat tongkrongan dan media massa kurang mendukung tindakan sopan disemua tempat ataupun sebaliknya, sehingga membuat tindakan sopan yang dilakukan oleh anak-anak atau pun remaja hanya dalam kondisi tertentu. Melihat kondisi demikian, agaknya tepat Kita lebih berperan dalam pembentukan etika pada anak-anak sekarang ini . Dan orang tua pula dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut. Namun mengajarkan etika tidak bisa dilakukan hanya satu hari. Hal ini membutuhkan proses yang cukup panjang dan harus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Hal tersebut adalah suatu langkah awal untik membentuk suatu generasi yang sadar diri terhadap tatakrama dan sopan santun. Agar kelak kedepanya Nilai-nilai tradisional terutama budaya semacam itu harus tetap,lestariakn, dijaga sehingga tidak hilang seiring dengan berkembangnya zaman. Nilai-nilai Budaya inilah sangatlah penting dalam hidup bermasyarakat dan bersosialisasi dengan orang banyak. Sehingga orang lain juga dapat menghormati kita sebagaimana kita telah menjaga dan menghormati dikalangan orang banyak.
Dan penyebab yang terjadi sehingga kultur budaya yang sudah di jaga oleh para leluhur kita menghilang di kalangan orang banyak ialah mulai ditinggalnya perubahan sosial budaya karena terjadi sebuah kebudayaan melakukan kontak dengan kebudayaan asing. Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Yang jadi pertanyaan besar untuk kita sebagai generasi penerus kebudayaan ini adalah mampukah, kita merubah pandangan masyarakat sekarang ini,terkait dengan perubahan sosial budaya yang suda di lestarikan oleh leluhur kita kembali?
Dan mampukah kita sebagai generasi penerus melestarikan kembali fungsi dan legitimasi terkait dengan  Mata-mata rumah yeng sekarang ini nilai historinya sudah menghilang?

KEMAJUAN ZAMAN MEMBUAT BUDAYA PANIA  ( MENEGUR ) DAN HORMAT KEPADA ORANG TUA MENGHILANG  DILINGKUNGAN MASYARAKAT HITU OLEH: S.Pelu ...